Untuk Kisah Tiada Berakhir
Pengalaman dan keadaan adalah paparan emosi yang seharusnya murni
Paparan emosi adalah bahan mentah, berkah dari kota bertuah
Berkah untuk 4 mata, 4 telinga, 2 kepala, membuat mahakarya agung menjadi nyataKata mereka: kata-kata hanyalah kata-kata, demikian juga tulisan, hanyalah manifestasi dari bahasa
Jikalau mereka tahu, aku bisa menelanjangi diriku sekalipun tetap berpakaian utuh, melalui kata dan tulisan,
mereka mungkin hanya bisa bisu, dan mencoba lagi untuk menelaah simbol-simbol yang ada
Katanya: ini adalah bakat seorang seniman
Yang memaparkan paragraf sinis untuk pernyataan kalimat sebaris
Yang tidak suka memberi nama pada warna yang terlihat sebagai warna, lebih baik dinikmati
Yang mencoba berargumentasi secara persuatif melalui anak-anak yang mereka lahirkan
Tetapi aku??.. seniman?!
Entahlah.. tidak dapat kupastikan..
Aku hanya suka berkarya, bercerita kepada dunia tentang dunia itu sendiri
Aku ingin mereka mendengar, melihat dan mengenalku,
Ada bingkisan indah yang hendak kuhadiahkan:
Kisah-kisah hina yang dibangun lagi dengan rasa percaya
suatu saatKetika anak-anakku mulai bisa berbicara, tanpa kusadari mereka mulai bercerita tentang aku, dengan bahasa yang kadang terlalu unik untuk kalangan awam,
Bisa kumaklumi karena mereka masih kecil, dan bagiku suara yang mereka lontarkan begitu berartiMungkinlah nanti dunia tersenyum pada saat aku menangis,
Mungkinlah nanti dunia menangis saat aku tersenyum,
Karena ada saatnya aku telanjang, tanpa perlu merasa malu
Mereka pun akan tahu itu…
Apakah aku seniman?..
Katanya..
Hmm.. entahlah..
Tidak dapat kupastikan.. Semuanya kutulis dalam hijau Merindumu, 18 Pebruari 2008
DIarsipkan di bawah: Puisi | Tidak ada komentar »

